Saat ini, terorisme di Indonesia tengah menjadi suatu topik yang hangat diperbincangkan baik di lingkungan masyarakat maupun media massa. Pasalnya, aksi terorisme gencar dilakukan oleh beberapa oknum tak berperikemanusiaan di beberapa kota atau daerah di Indonesia. Hal ini menimbulkan kontroversi diberbagai khalayak, mengingat aksi terorisme ini membuat keresahan dan menimbulkan trauma bagi masyarakat luas. Keamanan dan ketentraman dirasa sangat sukar dihirup. Rasa kehilangan oleh kerabat korban masih menjadi hidangan memilukan lengkap dengan aroma kesedihan sebagai bumbunya. Lantas siapa yang dirugikan? Tentu pendapat kontra muncul dari berbagai elemen masyarakat yang mengutuk aksi teroris ini. Sebab, hal ini menjadi alat pemecah belah persatuan dan kesatuan bangsa kita. Tentu kita sebagai bagian dari elemen bangsa Indonesia tidak mau tinggal diam setelah menyaksikan tragedi yang menimpa sodara setanah air kita, meskipun tidak menyaksikan secara langsung. Dari sinilah timbul deretan aksi yang tercetus dari berbagai elemen masyarakat yang mengutuk dan mengecam aksi terorisme yang banyak merugikan warga Indonesia.
Terorisme merupakan wujud dari pemberontakan suatu individu atau kelompok yang tidak takut melanggar hukum, bahkan rela mengorbankan nyawa sendiri demi mencapai motif atau tujuan tertentu. Mereka merasa menjadi suatu kelompok yang paling benar dan paling sempurna, sehingga apabila ada suatu individu atau kelompok lain yang tidak sepemahaman dengan mereka, maka harus enyah dari bumi ini. Padahal, kita semua tentu tau, bahwa kita hidup di Indonesia. Sebuah negara yang kaya akan perbedaan mulai dari suku, agama, ras, adat dan budaya. Hal ini seharusnya mampu dimaklumi, bukan malah memusnahkan suatu golongan yang berbeda pemahaman dengan kita. Dengan adanya khasanah perbedaan tersebut, harusnya semakin menambah keharmonisan kita dalam berbangsa dan bernegara. Bukan malah menghancurkan rasa cinta terhadap diferensiasi yang ada di negara kita.
Terorisme adalah alat pemecah belah yang digunakan untuk adu domba antar umat beragama. Namun, imbasnya bukan saja terhadap agama, tetapi juga merembet ke arah yang lebih luas seperti suku, adat dan budaya. Terorisme datang dari negara kapitalis, yakni negara barat yang benci terhadap islam. Sebenarnya yang membuat serangan-serangan adalah orang-orang kapitalis, akan tetapi yang disudutkan orang islam. Disinilah umat islam dijadikan kambing hitam, dan yang tampak islam terlihat buruk dimata dunia.
Terorisme hadir membawa embel-embel nama islam. Terorisme adalah ide yang dicetuskan oleh negara barat, negara yang tidak suka melihat islam mengalami kemajuan dan berkembang. Akhirnya, negara bara mengekspor ide terorisme ke negara-negara islam diberbagai belahan dunia, salah satunya Indonesia.
Terorisme termasuk wujud dadi buah pikir radikalisme yang menganggap bahwa kepentingan yang bertentangan atau bertolak belakang dengan pemahaman mereka adalah hal keliru, boleh untuk dimusuhi dan harus dimusnahkan. Hal ini terbukti dengan aksi pengeboman yang dilakukan dibeberapa wilayah di Indonesia yang menghilangkan banyak nyawa. Tentu hal ini menjadi suatu persoalan memilukan yang harus diberantas oleh pemerintah agar kegusaran-kegusaran dalam lingkup masyarakat mampu dihilangkan.
Para pelaku terorisme seakan-akan kehilangan sisi humanis mereka, sehingga tak segan-segan untuk melancarkan aksi berupa teror, kekerasan, ancaman, pembunuhan dan tindakan-tindakan lain yang mengganggu ketentraman suatu individu atau golongan.
Semua aksi dilancarkan tanpa rasa takut sedikitpun terhadap hukum negara, dengan dalih ingin membela agama. Saya tidak akan bertanya-tanya apa motif atau tujuan mereka melakukan pengeboman diberbagai wilayah di Indonesia tersebut, sebab sebagian besar dari masyarakat kita tentu tau para teroris melakukan pengeboman atas jihad mereka terhadap agama yang dianutnya. Sekali lagi kita semua tentu tau, bahwa perspektif mereka benar-benar salah kaprah dan jauh dari kata kebenaran. Beberapa pertanyaan muncul dibenak saya, sebenarnya pemahaman seperti apa yang mereka yakini? Apa yang ada di otak mereka sehingga mampu berpikiran sepicik itu? Lantas dikemanakan sisi humanisme mereka? Apakah ditukar dengan seperangkat alat peledak yang mematikan itu?
Entah iblis mana yang berhasil merasuki jiwa para teroris itu, nyatanya perbuatan mereka sudah tidak ada nilai manusiawinya. Namun, kita sebagai warga Indonesia yang taat pada agama dan bangsa, hendaknya tidak takut dengan aksi-aksi terorisme tersebut. Kita harus menyadari, bahwa tujuan mereka melakukan kegiatan brutal itu untuk memecah belah rasa nasionalisme kita. Kita harus segera meluruskan pandangan. Sudah cukup kita terlena dengan rasa cemas dan sedih akibat kehilangan kerabat yang menjadi korban pengeboman. Kita harus segera bangkit dan bulatkan tekad bersatu padu antar umat beragama, suku, ras dan budaya untuk melawan aksi terorisme.
Terorisme termasuk kedalam lingkup penyimpangan sosial. Penyimpangan sosial disini diartikan sebagai perilaku yang melangar aturan dan norma sosial dalam masyarakat. Penyimpangan sosial dapat menimbulkan gejala sosial, salah satunya kriminalitas. Menurut saya, terorisme sudah termasuk tindak kriminalitas.
Masih belum terlambat untuk menanggulangi kejahatan terorisme. Namun, bukan menanggulangi terorisme saja yang harus kita lakukan. Akan tetapi kita juga perlu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya wawasan nusantara dan implikasinya terhadap ketahanan nasional.
Ketahanan Nasional merupakan kondisi dimana pembangunan nasional berkonsep dalam pencapaian tujuan dan cita–cita bangsa. Ketahanan Nasional merupakan kondisi dinamis bangsa yang berisi ketangguhan, keuletan dan kemampuan bangsa untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala macam bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, yang mengancam dan membahayakan integritas, identitas serta kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sebagai kondisi, Ketahanan Nasional merupakan kondisi kehidupan nasional yang harus diwujudkan dan dibina secara dini, terus menerus, terpadu dan sinergis. Jangan sampai pembangunan nasional menjadi terhambat karena adanya aksi terorisme.
Dalam ranah berbangsa dan bernegara, wawasan nusantara dianggap sebagai solusi dalam menyelesaikan segala macam problematika yang ada dinegeri ini, salah satu contohnya dalam upaya penanggulangan terorisme. Hal tersebut harus disosialisasikan secara luas dan konsisten agar tertanam kuat dalam benak masyarakat. Maka ketika wawasan nusantara telah mendarah daging dalam sanubari masyarakat Indonesia, hal inilah yang mampu menjadi sebuah tameng dalam melawan radikalisme, khususnya terorisme.
Sosialisasi dapat disampaikan melalui pendidikan formal maupun informal, atau bisa juga memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat saat ini, yaitu media massa. Dalam penyampaiannya, tidak perlu terkesan memaksa dan mengekang. Semua harus atas dasar kesadaran masing-masing individu, yang penting kita sudah saling mengingatkan dan memberi penjelasan. Kita sebagai warga negara sekaligus umat beragama yang baik memang perlu saling mengingatkan untuk senantiasa berjalan kearah kebenaran agar mampu selamat baik didunia maupun di akherat.
Jika masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya wawasan nusantara, maka masyarakat tidak akan begitu saja menelan mentah-mentah pemahaman yang bersikap radikal. Mereka juga tidak akan mudan dihasut, dipengaruhi dan dicuci otaknya dengam sesuatu yang kebenarannya masih menjadi tanda tanya.
Heterogenitas yang ada dinegeri ini hendaknya disikapi secara dewasa dan berpikir rasional, bukan malah bersikap apatis dan menghancurkan khazanah perbedaan yang ada dinegeri ini. Kita juga harus menghindari pikiran dan perasaan bahwa kitalah yang paling benar, paling suci, dan paling sempurna didunia ini. Dengan menanamkan nilai-nilai arogan semacam itu akan menghilangkan rasa saling menghormati dan tenggang rasa antar sesama umat, suku atau bangsa. Jadi, sebisa mungkin kita harus membuang jauh-jauh pikiran negatif itu.
Wawasan nusantara akan memberi sensasi rasa cinta dan kasih sayang yang tulus dalam berbangsa dan bernegara. Hasilnya, hal tersebut akan mampu mengawal perjalanan bangsa Indonesia untuk menuju pembangunan nasional yang sejahtera. Wawasan nusantara akan menghasilkan individu berjiwa patriotisme dan nasionalisme yang memandang bahwa perbedaan hendaknya menjadi satu kesatuan, bukan suatu perpecahan.
Comments
Post a Comment