Mengenal Dilla Hardina Agustiani, Penyair 'Newbie' Asal Kediri


Berprestasi dibidang akademik saja menjadi hal yang biasa bagi mahasiswa. Namun, mampu mengubah hobi menjadi prestasi merupakan kebanggaan tersendiri bagi Dilla Hardina Agustiani. Perempuan yang akrab di sapa Dilla ini mengaku menyukai dunia literasi sejak duduk dibangku SMP. Namun, minat untuk serius menekuni hobinya tersebut baru tumbuh ketika ia duduk di bangku perkuliahan.
Kecintaannya terhadap dunia menulis bermula dari puisi. Saat ia mengetahui informasi lomba menulis puisi yang diadakan oleh salah satu penerbit indie di Surabaya, ia tertarik mengikutsertakan karyanya. Setelah menunggu selama beberapa minggu, ia mendapatkan kabar baik bahwa karyanya terpilih untuk dibukukan.
Dari sini, perempuan berzodiak leo ini semakin termotivasi untuk mengikuti event menulis puisi yang diadakan oleh berbagai penerbit buku maupun komunitas literasi di Indonesia. Hingga kini, karyanya yang telah dibukukan pada tahun 2018 yaitu antologi puisi bersama teman-teman yang berjudul Sajak Perpisahan (Penulis Muda Publisher), Berdialog dengan Angin (Sastrawiji Publisher), Doa dan Harapan (Naa Publisher), Teroris (Bidik Bangau Publisher), Jalinan Janji (Mandala Pratama), Liburan Asyik (Toscamedia), Juang (Pustaka Tunggal Publisher) dan Loppah (Pustaka Tunggal Publisher).
Perempuan pecinta kucing ini mengungkapkan bahwa ia banyak mendapat inspirasi dari membaca. Selain itu, disela-sela waktu senggangnya ia gunakan untuk menonton anime romance dan mendengarkan lagu-lagu Jepang.
"Aku tertarik banget sama Jepang. Maka dari itu aku suka nonton film jepang, anime, dan mendengarkan lagu-lagu jepang. Selain buat hiburan, hal ini sangat membantu dalam menambah wawasan dan memperbanyak kosakata." terangnya.
Selain bergelut dibidang akademik, mahasiswi IAIN Tulungagung ini juga aktif mengikuti pelatihan dan seminar  kepenulisan baik online maupun offline. Ia juga giat menambah relasi  dengan penulis dari berbagai latar belakang diseluruh Indonesia.
"Menulis mampu menyatukan kami dari yang nggak kenal jadi kenal, dari yang nggak tahu jadi tahu. Hal itu juga berguna buat menguatkan kita untuk tetap konsisten melangkah di jalan yang sama, di jalan literasi." jelasnya.
Perempuan yang berdomisi di Kediri ini mengaku mengidolakan Sapardi Djoko Damono. Khelak, ketika tua ia ingin terus punya semangat berkarya seperti Sapardi.
"Penyair faforitku itu  Eyang Sapardi. Aku suka banget sama puisinya yang berjudul Hujan Bulan Juni. Syairnya sebenarnya sederhana, tapi kayak punya sisi magis yang mampu menghipnotis pembaca untuk larut ke dalam kata-katanya. Aku pengen bisa kayak penyair Sapardi." Jelasnya.
Meskipun ia telah memiliki beberapa karya yang telah dimuat di berbagai penerbit, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menulis.
"Mimpiku masih banyak, Targetku selanjutnya dapat segera menyelesaikan antologi puisi tunggalku. gak kelar-kelar soalnya." ungkapnya.
Bagi Dilla, puisi adalah sambungan kehidupan sehari-harinya. Dimana setiap rekam jejak momen menariknya dapat di abadikan dalam sebuah tulisan. Tentunya dengan praktis serta makna yang mendalam.
"Menulis bukan hanya karena hobi. Lebih dari itu, menulis bagiku adalah adalah panggilan dari hati. Dimana diri ini rindu keabadian, dan dalam suatu karya, aku yakin dapat abadi di dalamnya." Imbuhnya.

Comments