Apa yang Salah pada Monyet?



Isu tentang monyet saat ini menjadi suatu topik yang hangat diperbincangkan di media massa. Hal ini karena terdapat salah satu ras di Indonesia, yakni Ras Papua yang disebut-sebut mirip dengan monyet. Hal ini tentu menyulut amarah dari masyarakat Papua yang tidak terima atas sebutan tersebut. Kasus itu bisa digolongkan sebagai bentuk rasisme yang diciptakan oleh oknum tertentu yang menganggap dirinya lebih baik dibanding Ras Papua. Namun, ini merupakan masalah personal yang diciptakan oleh individu tertentu, Dan tentu saja tidak mengatasnamakan daerah tertentu. Masalah ini murni diciptakaan personalitas semata. Tentu hal ini sangat menyakitkan bagi masyarakat Papua. Siapa yang mau disamakan dengan monyet? Tentu tidak ada bukan? Manusia memang sangat sensitif jika dipanggil dengan sebutan nama hewan. Misalnya ayam, anjing, babi, kambing, sapi, gorila, jerapah dan tentu saja monyet. Akan tetapi lain halnya jika seseorang dipanggil dengan sebutan nama hewan yang akrab dan nyaman di dengar telinga seperti panda, kelinci, kucing, marmut, ikan dan sebagainya, mungkin seseorang malah merasa kalau panggilan tersebut hanya untuk lucu-lucuan.
Namun,mengapa sebutan monyet menjadi suatu persoalan yang memanas di tengah masyarakat Indonesia? Apakah monyet benar-benar hewan yang hina bahkan lebih najis daripada anjing sampai-sampai manusia tidak mau disamakan dengan monyet? Saya pikir monyet dianggap sebegitu hinanya dimata manusia karena sejak dulu kala, monyet sendiri sudah mendapat diskriminasi dari manusia. Monyet dianggap sebagai hewan yang sangat jelek dan tidak pantas bergaul dengan manusia, apalagi sampai dijadikan hewan peliharaan. Kalau sampai seekor monyet dijadikan hewan peliharaan, dapat dipastikan monyet tersebut tidak diberi kebebasan untuk bisa leluasa bergerak karena dikurung atau diikat di sebuah pohon, lalu monyet itu menjadi tontonan masyarakat di lingkungan sekitar tersebut.
Pernah suatu hari, saya bersama teman mengendarai sepeda motor dari arah Tulungagung menuju Kediri. Kami melewati Kuburan Ngujang, suatu daerah di Tulungagung yang terdapat banyak monyet yang hidup secara liar di sana. Di sebelah utara kuburan terdapat jembatan yang memiliki nama yang sama dengan kuburan di sampingnya, yakni Jembatan Ngujang. Di sepanjang trotoar jembatan, seringkali terdapat monyet-monyet yang berjejeran. Ada yang sedang menyusui anaknya, ada  yang bergelantungan di tiang-tiang jembatan, pokoknya ada banyak monyet yang beraktivitas di sana. Meski tidak mengatakannya, namun semua orang tentu tahu kalau monyet-monyet yang berjejeran di trotoar itu sedang menunggu orang-orang yang baik hati untuk memberikan makanan pada mereka. Benar saja, di setiap jam, hampir selalu ada orang yang melemparkan makanan untuk monyet-monyet tersebut. Entah itu snack, pisang, krupuk, roti dan berbagai jenis makanan lainnya. Umumnya, monyet memakan semua jenis makanan yang diberikan oleh pengendara yang melintasi jalanan tersebut. Saat saya dan teman saya melewati Jembatan Ngujang, seperti biasanya—terdapat banyak monyet yang berjejeran di sepanjang trotoar. Lantas, teman saya yang sedang membonceng saya kala itu memanggil-manggil nama saya dengan berteriak, “Dil,,, Dilla! Dill… Dilla..!” Namun, bukannya menghadap ke saya, teman saya tersebut malah menghadap ke monyet. Singkat kata teman saya tersebut menganggap saya adalah monyet. Lantas, apakah saya marah? Tentu saja tidak, karena itu hanyalah bercanda. Tapi, kenapa monyet? Kenapa monyet selalu jadi bahan bercandaan yang mengarah pada diskriminasi seakan monyet adalah hewan paling hina dan pantas untuk dijadikan bahan olok-olokan? Kenapa panda, kelinci, marmut dan kucing tidak mendapat tempat yang sama seperti monyet padahal mereka sama-sama hewan berbulu? Kenapa demikian?
Faktanya, monyet memang mendapat diskrimasi oleh manusia. Ada yang menganggap monyet adalah hewan yang berbahaya, ada yang menganggap monyet hewan yang hina. Seringkali monyet mendapat siksaan dari pelbagai oknum yang tidak bertanggungjawab. Sebut saja pameran topeng monyet. Bukankah masyarakat sudah tidak asing lagi dengan pertunjukan topeng monyet?
Pernah suatu ketika di tahun 2019, saat saya berbuka puasa bersama teman-teman di café yang lokasinya dekat dengan kampus, terdapat pertunjukan topeng monyet di depan café tersebut. Orang-orang yang berada di café nampak menonton dan menikmati pertunjukan tersebut. Saya beberapa kali mendengar pengunjung cafe berkata kepada teman yang ada di sampingnya, “Loh, Ta, kamu kok tampil di sana?” atau bilang “Itu loh, Nad, temanmu sedang tampil,” Bahkan mereka secara bersamaan tertawa saat melihat tingkah lucu yang dilakukan monyet tersebut.
Namun, tidak dengan saya. Saya cenderung tidak tega menyaksikan pertunjukan yang menurut saya sangat tidak berperikehewanan tersebut. Beberapa kali saya bilang kepada teman-teman, kasihan sekali monyet itu. saya melihat dari kacamata psikologis, pasti monyet itu amat tertekan dengan pertunjukan yang mengharuskan ia untuk tampil maksimal dan sempurna. Dan tentu saja, tiada setitik kesalahan pun yang diperbuat oleh monyet dalam pertunjukan tersebut. Manusia saja bisa melakukan kesalahan, apalagi hewan, pikirku. Tapi kalau sampai seekor hewan mampu melakukan suatu hal yang konsisten dan sempurna seperti pertunjukan tersebut, bukankah berarti hewan tersebut telah melewati masa pelatihan ekstrim dan ketat untuk membentuk mental hewan menjadi hewan yang penurut sekaligus perfeksionis?
Sejarah panjang membuktikan bila manusia yang tidak bertangjawab seringkali memperlakukan monyet secara semena-mena. Stop diskriminasi pada monyet. Monyet adalah hewan yang tidak memiliki kesalahan apa-apa pada manusia. Monyet adalah hewan yang harus diharhai, bukan didiskrimasi.  Jangan merasa kita sebagai manusia jauh lebih baik dibandingkan monyet, karena dengan sifat sombong dan rasisme tersebut telah cukup membuktikan bahwa kita adalah manusia yang lemah karena tidak mampu mengontrol sikap dan budi pekerti. Pemerintah harus tegas menyikapi penyiksaan berkedok pertunjukan monyet tersebut. Harus ada sanksi nyata atas perbuatan tersebut. Perlu juga adanya kesadaran dari masyarakat itu sendiri terkait dengan kebebasan ruang pada monyet. Sebab, masih banyak oknum yang memanfaatkan monyet sebagai ladang penghasilan.
Mungkin tidak ada luka fisik yang terdapat pada tubuh monyet, akan tetapi perasaan tersiksa dan mental yang benar-benar ditekan untuk menjadi bintang pertunjukan yang menawan tentu telah melukai diri monyet dari dalam. Sebab, sejatinya monyet adalah hewan yang butuh kebebasan di alam terbuka, bukan di keramaian seperti lingkungan manusia. Monyet juga ciptaan Tuhan yang hidup di muka bumi ini, Dan sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang arif dan bijaksana harus mampu untuk memberikan kasih sayang dan belas kasih kepada hewan, termasuk kepada monyet. [DHA]

Comments