Alhamdulillah, Akhirnya Aku Bisa Kuliah



Namaku Dilla. Aku ingin bercerita tentang kenangan di masa lampau ketika aku belum mampu menggapai mimpiku untuk bersekolah di perguruan tinggi. Tentang hasratku menimba ilmu yang menggebu. Juga, tentang takdir yang mungkin saat itu belum berpihak kepadaku.
Aku adalah orang yang sangat haus akan ilmu pengetahuan. Aku suka belajar. Tentunya, belajar tentang bidang yang aku sukai.
 Saat itu aku kelas 12 SMA. Tentunya pada masa-masa ini kita dihadapkan pada beberapa pilihan hidup yang akan kita lakukan setelah lulus nanti.
Waktu itu aku ingin kuliah di perguruan tinggi negeri. Namun sayang, hasratku menempuh pendidikan ke jenjang perguruan tinggi tidak diindahkan oleh kedua orangtuaku. Aku tau, saat itu keadaan ekonomi orangtuaku sangat tidak menentu. Terlebih aku masih punya adik yang bersekolah. Pastinya dia juga butuh biaya untuk pendidikannya. Namun, semua itu bukanlah alasan utama kenapa orangtuaku tidak mengijinkan aku kuliah. Alasan terkuatnya karena kakakku. Ya, kakakku dulu adalah seorang mahasiswi yang kuliah di kampus swasta. Tentunya biaya kuliah di kampus swasta tidaklah murah, kecuali kita mendapat beasiswa. Namun sayang, kakakku bukan termasuk orang yang mendapat rezeki itu. Kehidupannya sehari-hari dipenuhi dengan hingar bingar foya-foya. Dia begitu hedonis. Entah berapa biaya kuliah kakakku, tapi nyatanya orangtuaku sampai menjual sebagian tanah untuk keperluan pendidikannya. Hingga menjelang skripsi, kakakku malah memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya dan menunda perkuliahannya. Dan hingga sekarang, janji untuk melanjutkan kuliah tersebut tidak pernah ia wujudkan.
Itulah alasan utama kenapa aku dilarang keras untuk kuliah. Orangtuaku terlalu takut aku akan seperti kakakku. Kuliah tidak serius dan juga tidak lulus.
Meskipun begitu, aku tidak ingin kalah oleh keadaan. Aku terus membawa mimpiku dengan gigih. Aku pun mengikuti serangkaian tes masuk perguruan tinggi negeri dengan tes tulis. Waktu itu aku juga daftar bidikmisi, berharap dapat kuliah dengan gratis tanpa membebani orangtuaku sedikitpun, karena dengan bidikmisi aku bisa kuliah dengan gratis dan mendapat uang saku setiap bulan. Lumayan, bisa untuk bertahan hidup di tanah rantau. Tentunya, aku juga meyakinkan orangtuaku. Meskipun begitu sulit, tapi aku tetap pada tekadku.
 Singkat cerita, demi mengisi kosongnya hari-hariku, sambil menunggu pengumuman tes, aku bekerja disalah satu toko kosmetik yang ada di dekat desaku. Entah gerangan apa yang bisa membawaku sampai bekerja disana, mungkin ini yang disebut takdir.
Awal karirku tidaklah mulus. Disana aku bertemu dengan pegawai lama yang tidak mampu mengakrabkan diri denganku. Aku pun tak masalah jika tidak diorangkan, toh aku bekerja tidak untuk dirinya.
Dan ketika hari pengumuman tiba, aku begitu dibuatpatah hati karena aku ditolak oleh kampus itu. Aku pun tetap melanjutkan kerja disana, lagi pula aku sudah punya banyak teman yang baik dan bahagia bekerja disana. Namun suatu ketika aku berpikir, "apakah masa depanku hanya sampai disini?" dulu ketika kecil, kita memimpikan suatu profesi yang begitu membanggakan dan ingin kita tekuni ketika dewasa nanti. jika anak-anak ditanya, esok ketika dewasa ingin jadi apa? Mereka ingin menjadi seorang dokter, polisi, masinis, guru dan profesi menakjubkan lainnya. Mereka belum mengerti bahwa menjadi dewasa tidak semudah yang mereka kira. Sama halnya pada posisiku waktu itu. Aku sangat yakin jika masa depanku tidak hanya berakhir disini, jadi aku masih menjaga mimpiku untuk tetap bisa melanjutkan kuliah. Meskipun itu tahun depan.
Aku pun mencoba tes masuk perguruan tinggi negeri lagi, tentunya dengan bidikmisi. Namun sayang, aku tidak lulus lagi. Untungnya aku juga daftar UMPTKIN di IAIN Tulungagung, dan ternyata aku diterima. Rezekiku di sana.
Aku sangat bersyukur karena di terima di sini. biaya SPP yang tidak mahal, juga biaya hidup yang terjangkau bisa kunikmati di sini. bila aku dulu di terima SBMPTN, belum tentu aku bisa se bahagia ini. Sedikit demi sedikit, orang tuaku mulai dapat menerima aku kuliah.

Comments

Post a Comment