Resume Jurnal
Judul : Menyoal Etika Jurnalisme Kontemporer : Belajar dari OhMyNews
Penulis : Yohanes Widodo
Jurnal : ASPIKOM
Volume : volume 1 No 1 Juli 2010
1. Latar Belakang
Kehadiran jurnalisme online telah merevolusi pemberitaan dimana kecepatan menjadi faktor utama. Kini, berita bukan lagi peristiwa yang ‘telah berlangsung’, tetapi peristiwa yang ‘sedang berlangsung’. Perkembangan jurnalisme kontemporer membawa beberapa dampak positif. Namun, hal ini juga menimbulkan dampak negatif, diantaranya ; meningkatnya opini dan rumor tanpa bukti yang bisa merusak kredibilitas jurnalistik, rendahnya standar etika jurnalisme yang ditandai maraknya cerita sensasional, maraknya komplain publik tentang pelanggaran privasi pribadi oleh media, devaluasi profesi jurnalis, karena setiap orang bisa disebut jurnalis, ketika ia bisa mengeluarkan liputan dan kebingungan berkaitan dengan nilai berita dan layak berita. Kekuatiran itu muncul karena kurang dipahaminya kode etik jurnalistik oleh reporter warga seperti objektivitas, adil dan seimbang, menjunjung tinggi kebenaran, cek dan ricek dan tidak meniru.
Jurnal ini mengkaji persoalan etika jurnalisme, kredibilitas, dan obyektivitas pada jurnalisme kontemporer (blog, jurnalisme online, dan jurnalisme warga), dengan mengangkat studi kasus Ohmynews—proyek jurnalisme warga yang dikembangkan di Korea Selatan, khususnya tentang bagaimana Ohmynews mengembangkan jurnalisme warga dan mengantisipasi persoalan etika jurnalisme.
2. Tujuan
a. Mengetahui apakah kehadiran internet akan mengurangi atau melemahkan nilai dan standar jurnalisme.
b. Mengetahui kredibilitas pemberitaan dan kode etik jurnalisme diterapkan dalam jurnalisme online dan jurnalisme warga.
c. Mengetahui apa yang terjadi jika siapa saja bisa menjadi jurnalis tanpa standar etika.
3. Metodologi
Jenis tulisan yang digunakan dalam jurnal ini adalah kualitatif. Metode ini mendeskripsikan secara kualitatif mengenai etika jurnalisme dan jurnalistik kontempore dengan mengangkat studi kasus Ohmynews.
4. Hasil
OhmyNews International (http://english.ohmynews.com/index.asp) adalah surat kabar online yang menyajikan artikel reporter warga ditulis oleh kontributor dari seluruh belahan dunia Praktik jurnalisme warga ini didirikan oleh Oh Yeon Ho. Berkantor pusat di Seoul, Korea Selatan, situs ini pertama terbit 2 Februari 2000 dengan moto “Setiap Warga adalah Seorang Reporter”. Kini mereka memiliki 60 ribu reporter di seluruh dunia. Isinya 80 persen berasal dari jurnalis warga, sisanya oleh ‘wartawan tradisional’ yang jumlahnya 55 orang. OhmyNews merupakan situs pertama di dunia yang menerima, mengedit, dan mempublikasikan artikel dari pembacanya dalam laporan berita.
OhmyNews berusaha mengantisipasi kekurangan dalam hal obyektivitas dan profesionalisme dengan menerapkan The Ethics Code and Citizen Reporter Agreement. Mereka juga membuka sekolah jurnalisme warga (Ohmynews Citizen Journalism School) pada 24 November 2007 di Seoul. Sekolah ini berfungsi sebagai collaborative knowledge center untuk kelas jurnalisme, kamera digital dan foto jurnalistik, dengan mengikutsertakan editor OhmyNews, jurnalis cetak, radio, dan televisi.
Kredibilitas OhmyNews didasarkan pada kerja editor yang mengecek fakta dari semua artikel. Ada juga komentar dari pembaca, sehingga kesalahan bisa diperbaiki. William Polard mengatakan, “jurnalisme warga adalah proses yang melibatkan pembaca dan editor. Jurnalisme warga memungkinkan warga mempengaruhi agenda pemberitaan (Hauben, 2006).
Etika jurnalisme online pada akhirnya tidak berbeda dengan etika jurnalisme tradisional. Menurut Online Jurnalism Review yang dikeluarkan oleh Annenberg School of Journalism, University of Southern California(http://www.ojr.org/ojr/wiki/Ethics) ada beberapa kualitas dasar yang harus ditunjukkan oleh jurnalisme online, yakni, anti plagiarisme, jurnalis perlu menyampaikan bagaimana ia mendapatkan informasi dan apa yang mempengaruhinya untuk mempublikasikannya, tidak menerima bingkisan atau uang untuk liputan dan jujur.
5. Kesimpulan
Belajar dari Ohmynews, jurnalis online dituntut untuk lebih memperhatikan kecenderungan aktual menyangkut kredibilitas dan akurasi, tranparansi dan multimedia massa, serta harus waspada terhadap kecepatan penyampaian berita yang seimbang dengan kapasitas akurasinya.
OhmyNews mengantisipasi isu kredibilitas dengan cara ; Pertama, mengecek terlebih dahulu berita dari reporter warga melalui internet dan sumber lain oleh editor. Jika berita tersebut benar, maka bisa ditampilkan. Lebih jauh lagi, pembaca lain bisa memberi komentar apakah berita yang ditulis benar atau tidak. Mereka inilah benteng terakhir kebenaran berita. Kedua, identitas reporter warga juga harus jelas sehingga OhmyNewsdapat menelepon balik ketika ada pertanyaan. Pengalaman OhmyNews.
6. Saran
para pekerja media dalam melakukan tugas jurnalistiknya harus mempertimbangkan sembilan elemen jurnalisme (Kovach dan Rosenstiel, 2004), yang meliputi: (1) Jurnalisme harus memiliki kewajiban pertama pada kebenaran. (2) Jurnalisme harus memiliki loyalitas pertama pada warga masyarakat. (3) Jurnalisme harus memiliki kedisiplinan dalam melakukan verifikasi. (4) Jurnalisme harus menjaga independensi dari sumber berita. (5) Jurnalisme harus memfungsikan dirinya sebagai pemantau independen atas suatu kekuasaan tertentu. (6) Jurnalisme harus menyediakan forum bagi kritik dan komentar publik. (7) Jurnalisme harus mengupayakan hal yang penting menjadi menarik dan relevan. (8) Jurnalisme harus menjaga agar setiap berita komprehensif dan proporsional. (9) Jurnalisme harus membolehkan praktisinya untuk menggunakan nuraninya.
Judul : Menyoal Etika Jurnalisme Kontemporer : Belajar dari OhMyNews
Penulis : Yohanes Widodo
Jurnal : ASPIKOM
Volume : volume 1 No 1 Juli 2010
1. Latar Belakang
Kehadiran jurnalisme online telah merevolusi pemberitaan dimana kecepatan menjadi faktor utama. Kini, berita bukan lagi peristiwa yang ‘telah berlangsung’, tetapi peristiwa yang ‘sedang berlangsung’. Perkembangan jurnalisme kontemporer membawa beberapa dampak positif. Namun, hal ini juga menimbulkan dampak negatif, diantaranya ; meningkatnya opini dan rumor tanpa bukti yang bisa merusak kredibilitas jurnalistik, rendahnya standar etika jurnalisme yang ditandai maraknya cerita sensasional, maraknya komplain publik tentang pelanggaran privasi pribadi oleh media, devaluasi profesi jurnalis, karena setiap orang bisa disebut jurnalis, ketika ia bisa mengeluarkan liputan dan kebingungan berkaitan dengan nilai berita dan layak berita. Kekuatiran itu muncul karena kurang dipahaminya kode etik jurnalistik oleh reporter warga seperti objektivitas, adil dan seimbang, menjunjung tinggi kebenaran, cek dan ricek dan tidak meniru.
Jurnal ini mengkaji persoalan etika jurnalisme, kredibilitas, dan obyektivitas pada jurnalisme kontemporer (blog, jurnalisme online, dan jurnalisme warga), dengan mengangkat studi kasus Ohmynews—proyek jurnalisme warga yang dikembangkan di Korea Selatan, khususnya tentang bagaimana Ohmynews mengembangkan jurnalisme warga dan mengantisipasi persoalan etika jurnalisme.
2. Tujuan
a. Mengetahui apakah kehadiran internet akan mengurangi atau melemahkan nilai dan standar jurnalisme.
b. Mengetahui kredibilitas pemberitaan dan kode etik jurnalisme diterapkan dalam jurnalisme online dan jurnalisme warga.
c. Mengetahui apa yang terjadi jika siapa saja bisa menjadi jurnalis tanpa standar etika.
3. Metodologi
Jenis tulisan yang digunakan dalam jurnal ini adalah kualitatif. Metode ini mendeskripsikan secara kualitatif mengenai etika jurnalisme dan jurnalistik kontempore dengan mengangkat studi kasus Ohmynews.
4. Hasil
OhmyNews International (http://english.ohmynews.com/index.asp) adalah surat kabar online yang menyajikan artikel reporter warga ditulis oleh kontributor dari seluruh belahan dunia Praktik jurnalisme warga ini didirikan oleh Oh Yeon Ho. Berkantor pusat di Seoul, Korea Selatan, situs ini pertama terbit 2 Februari 2000 dengan moto “Setiap Warga adalah Seorang Reporter”. Kini mereka memiliki 60 ribu reporter di seluruh dunia. Isinya 80 persen berasal dari jurnalis warga, sisanya oleh ‘wartawan tradisional’ yang jumlahnya 55 orang. OhmyNews merupakan situs pertama di dunia yang menerima, mengedit, dan mempublikasikan artikel dari pembacanya dalam laporan berita.
OhmyNews berusaha mengantisipasi kekurangan dalam hal obyektivitas dan profesionalisme dengan menerapkan The Ethics Code and Citizen Reporter Agreement. Mereka juga membuka sekolah jurnalisme warga (Ohmynews Citizen Journalism School) pada 24 November 2007 di Seoul. Sekolah ini berfungsi sebagai collaborative knowledge center untuk kelas jurnalisme, kamera digital dan foto jurnalistik, dengan mengikutsertakan editor OhmyNews, jurnalis cetak, radio, dan televisi.
Kredibilitas OhmyNews didasarkan pada kerja editor yang mengecek fakta dari semua artikel. Ada juga komentar dari pembaca, sehingga kesalahan bisa diperbaiki. William Polard mengatakan, “jurnalisme warga adalah proses yang melibatkan pembaca dan editor. Jurnalisme warga memungkinkan warga mempengaruhi agenda pemberitaan (Hauben, 2006).
Etika jurnalisme online pada akhirnya tidak berbeda dengan etika jurnalisme tradisional. Menurut Online Jurnalism Review yang dikeluarkan oleh Annenberg School of Journalism, University of Southern California(http://www.ojr.org/ojr/wiki/Ethics) ada beberapa kualitas dasar yang harus ditunjukkan oleh jurnalisme online, yakni, anti plagiarisme, jurnalis perlu menyampaikan bagaimana ia mendapatkan informasi dan apa yang mempengaruhinya untuk mempublikasikannya, tidak menerima bingkisan atau uang untuk liputan dan jujur.
5. Kesimpulan
Belajar dari Ohmynews, jurnalis online dituntut untuk lebih memperhatikan kecenderungan aktual menyangkut kredibilitas dan akurasi, tranparansi dan multimedia massa, serta harus waspada terhadap kecepatan penyampaian berita yang seimbang dengan kapasitas akurasinya.
OhmyNews mengantisipasi isu kredibilitas dengan cara ; Pertama, mengecek terlebih dahulu berita dari reporter warga melalui internet dan sumber lain oleh editor. Jika berita tersebut benar, maka bisa ditampilkan. Lebih jauh lagi, pembaca lain bisa memberi komentar apakah berita yang ditulis benar atau tidak. Mereka inilah benteng terakhir kebenaran berita. Kedua, identitas reporter warga juga harus jelas sehingga OhmyNewsdapat menelepon balik ketika ada pertanyaan. Pengalaman OhmyNews.
6. Saran
para pekerja media dalam melakukan tugas jurnalistiknya harus mempertimbangkan sembilan elemen jurnalisme (Kovach dan Rosenstiel, 2004), yang meliputi: (1) Jurnalisme harus memiliki kewajiban pertama pada kebenaran. (2) Jurnalisme harus memiliki loyalitas pertama pada warga masyarakat. (3) Jurnalisme harus memiliki kedisiplinan dalam melakukan verifikasi. (4) Jurnalisme harus menjaga independensi dari sumber berita. (5) Jurnalisme harus memfungsikan dirinya sebagai pemantau independen atas suatu kekuasaan tertentu. (6) Jurnalisme harus menyediakan forum bagi kritik dan komentar publik. (7) Jurnalisme harus mengupayakan hal yang penting menjadi menarik dan relevan. (8) Jurnalisme harus menjaga agar setiap berita komprehensif dan proporsional. (9) Jurnalisme harus membolehkan praktisinya untuk menggunakan nuraninya.
Comments
Post a Comment