Sekolah Harus Menyenangkan, Bukan Membuat Tertekan


Pendidikan merupakan suatu jalur yang perlu di lalui oleh anak -anak di Indonesia untuk mengentaskan kebodohan. Melalui pendidikan, seseorang akan lebih bisa mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, pendidikan disebut-sebut sebagai gerbang yang perlu dilalui demi menuju kehidupan yang lebih baik. Problematika pun muncul, ketika anak merasa terbebani dengan proses belajar yang menjenuhkan dan membosankan. Ketika pendidikan tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menggembirakan. Ketika pendidikan belum mampu menjadi seperti apa yang diimpikan, dari sinilah permasalahan dimulai.
Seorang anak perlu diberi kebebasan dalam berkreasi dan berpikir positif. Orang tua dan guru harus mencari tahu sedini mungkin potensi, minat dan bakat sang anak. Perlu disadari, apabila anak dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang sebenarnya bukan minat dan kemauan mereka, maka hal tersebut akan cenderung mengarah pada kegagalan. Salah satu contohnya, jika anak tidak pandai dalam matematika, belum tentu ia tidak punya kemampuan pada bidang lainnya. Bisa jadi passion yang dia punya ada dibidang berbeda, seperi seni atau sastra.
Pemerintah perlu merombak sistem pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih efisien. Setiap anak berhak memilih pelajaran yang mereka suka, lalu maksimalkan belajarnya. Sedangkan untuk pelajaran yang tidak mereka suka, cukup tau dasarnya saja. Tidak sulit bukan?
Penelitian telah menunjukkan bahwa seseorang dapat belajar dengan baik ketika mereka termotivasi oleh diri mereka sendiri dan mengerjakan sesuatu yang benar-benar menjadi tujuan hidup mereka. Dalam kondisi tersebut, belajar menjadi sangat menyenangkan.
Selain belajar sesuai dengan minat dan bakat, peserta didik perlu dibekali IQ (Inteligent Quotient), SQ (Spiritual Quotient), dan EQ (Emotional Quotient) yang mumpuni. Ketiga faktor ini sangatlah penting untuk kemajuan SDM. Jangan sampai pendidikan di negara ini melahirkan orang yang mempunyai intelektual tinggi, namun pandai dalam hal korupsi. Tanpa SQ dan EQ, IQ itu berbahaya, dan tanpa IQ, masih kurang jika mengandalkan SQ dan EQ saja.
Sudah saatnya anak-anak Indonesia berpikir, bereksplorasi dan berkarya dengan suka cita. Dengan kegembiraan itulah mereka akan mampu mendapat hasil yang maksimal karena kegembiraan adalah energi mereka. Selain IQ, penanaman nilai SQ dan EQ juga penting untuk perkembangan psikologis dan religiusitas anak. Impact-nya, adalah akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang benar-benar ahli dalam bidangnya. Akan lahir SDM yang berkualitas. Akan lahir tenaga-tenaga kerja yang produktif dan berdaya saing tinggi, dan tentunya Indonesia akan menjadi negara yang maju. Jadi, sekolah itu harus menyenangkan. Bukan malah menjadi beban. (DHA)

Comments